Seorang sahabat yang begitu baik menuliskan itu di kartu ucapan kecil
bergambar hati di ulang tahunku yang ke-30 dua bulan lalu. Kalimat yang sangat
pendek –karena sesungguhnya aku mengharapkan serangkai puisi atau bahkan
berlembar-lembar surat darinya. Berulangkali aku mengeja tulisannya yang sangat
rapi, seakan khawatir ada aksara yang terlewat oleh mata minusku. Tapi hanya
itu saja yang bolak-balik kubaca. Kalimat itu tak lantas menjadi lebih panjang,
namun makin kuat menancap di benakku. Aku mengulangnya ratusan kali, hingga aku
ingat guratan tinta berujung di mana. Aku bahkan ingat letak huruf besar kecil
yang bercampur baur tak menentu. Mataku serasa bisa membaca kalimat itu tanpa
membuka.
Sungguh, lama-lama, kalimat itu jadi seperti mantra. Mantra yang kuucapkan tiap
kali aku putus asa dan kehabisan tenaga menjalani hari-hari yang tak selalu
menyenangkan. Kalimat yang jadi sugesti bagiku untuk terus melangkah dan tetap
berani memiliki mimpi. Buatnya, mungkin kalimat itu hanyalah cetusan tiba-tiba
yang meloncat keluar dari tempurung kepalanya yang selalu dipenuhi kata-kata.
Baginya, mungkin itu cuma satu dari jutaan kalimat yang selalu mengalir deras
dari jemarinya, yang bukan tak mungkin tak lagi ia ingat pernah ia tuliskan.
Tapi, kalimat singkat itu merasuki pikiranku seperti dinginnya udara dinihari
menelusupi kisi-kisi pagi. Menyejukkan, menyegarkan dan menenangkanku. Untukku,
kalimat itu seperti madu penawar lara. Kain pembebat saat raga dan jiwaku
terluka. Penopang ketika kakiku terasa lunglai tak berdaya.
Tetap memiliki harapan adalah pekerjaan yang seringkali terasa begitu berat bagiku.
Bukan, bukan karena aku tak mau belajar memiliki harapan. Tapi karena semakin
ingin aku menggapai harapan, mereka seperti menjauh dan enggan kuhampiri.
Mereka lari, ketika aku mengejarnya. Maka dalam tiap entakkan kaki, kurapalkan
kalimat itu bersama doa-doa. Dalam tiap embusan harap, kusaksikan kepulan asa
menyebar di angkasa. Kuyakinkan hati, akan ada esok hari. Kulepaskan mimpiku
untuk terbang menggapai gemintang, bersikukuh dalam keyakinan : suatu saat
mereka akan datang lagi, membawa segenap harap yang pernah kutebarkan.
Dan tampaknya aku mulai dapat mengumpulkan sisa-sisa mimpi yang dulu sempat
jadi abu. Aku mulai punya daya untuk kembali menyusun serpihan-serpihan asa
yang sempat berserakan. Aku mulai percaya bahwa masa depan akan selalu ada bagi
siapapun yang tak pernah membunuh masa lalu dan tak pernah merisaukan masa
depan. Ya...kini kembali kusadari, rahmat terbesar memanglah tetap memiliki
harapan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar